Minggu, 21 Juli 2013

BALASAN KEBAIKAN ADALAH KEBAIKAN PULA


Kisah ini terjadi setahun yang lalu, ketika itu saya baru saja pulang kantor. Saya pulang sudah larut sore. Selesai sholat magrib dan isya saya duduk membaca koran diruang tamu. Tiba-tiba saya mendengar suara motor berhenti didepan rumah dan terdengar ucapan salam.
“waalaikumsalam wr. Wbr”. Saya segera menjawab salam tersebut dan membuka pintu.
“Pak Suripto rupanya, silahkan masuk pak”. Jawab saya.
Wajah Pak Suripto tampak agak suram, mungkin dia letih baru pulang kerja seperti saya juga. Setelah bicara kesana sini berbasa basi kutanyakan maksud kedatangan beliau. Pak suripto menjelaskan bahwa tadi pagi ia baru mendapat SMS dari putranya butuh uang Rp. 200.000,- untuk menyelesaikan skiripsinya. Uang tersebut minta dikirimkan segera besok karena ia sangat membutuhkannya.
Kebetulan saat ini ia juga sedang kesulitan uang, tadi siang ia sudah berusaha meminjam temannya dikantor. Tapi keadaannya ya sama juga, mereka tidak ada yang bisa membantu. Selesai sholat magrib ia berpikir keras mau pinjam kemana ya?, “Selesai sholay isya tadi tiba-tiba terlintas wajah bapak dalam pikiran saya, karena itu saya kemari mungkin bapak bisa membantu memberi pinjaman kepada saya untuk mengatasi kebutuhan putra saya ini” katanya menjelaskan.
Saya termenung dan merasa prihatin dengan kesulitan teman saya ini. Saya pikir kalau saya kasih pinjam tentu masalah Pak Suripto tidak sampai disitu saja, tentu dia masih akan dibebani pikiran bagaimana mengembalikan uang itu kelak, saya ingin membantu teman ini secara tuntas, “Pak Ripto saya ingin betul-betul membantu Pak Suripto, kalau uang sebesar itu saya pinjamkan kepada Pak Suripto tentu Pak Suripto masih terbebani pikiran bagaimana mengembalikannya kelak, karena itu saya ingin membantu Pak Suripto dengan memberikan uang sebesar itu dan Pak Suripto tidak perlu memikirkannya lagi kelak” kataku. Pak Suripto tampak terkejut dan air matanya berlinang sambil mengucapkan terimakasih kepada saya.
Selanjutnya Pak Suripto melanjutkan “Pak saya mengucapkan terimaksih kepada Bapak, saya sungguh takjub inilah kekuasaan Allah yang Maha besar, saya teringat kejadian seminggu yang lalu mungkin ini balasan dari apa yang saya lakukan minggu lalu”
“bagaimana ceritanya pak?” kata saya penasaran. Pak Suripto menceritakan pengalaman minggu lalu yang menurut dugaan ada kaitannya dengan bantuan yang diterima hari ini. “Kejadiannya hari minggu ketika itu sehabis sholat dzuhur saya duduk-duduk diberanda rumah. Dirumah sebelah saya lihat ada seorang kakek tua membawa dagangan dan botol aqua kosong menanti didepan pintu pagar. Tidak lama kemudian orang itu beranjak dari rumah depan pagar rumah itu dengan masih menenteng botol aqua kosong itu dan berjalan menuju rumah saya”.
“Assalamualaikum pak, saya ini pedagang sandal sudah sejak kemarin belum ada penglaris dan saya belum makan. Barangkali bapak bisa memberi sebotol air putih saya sangat haus” kata orang itu. “Tadi saya kerumah sebelah, orangnya melihat saya dan masuk kedalam tidak keluar lagi” katanya melanjutkan. Saya prihatin melihat keadaan orang itu kemudian saya persilahkan masuk.
“Jadi bapak belum makan dari kemarin?” kata saya menegaskan keadaan orang tersebut, selanjutnya saya suruh orang itu menunggu diteras rumah dan saya masuk ke dalam seingat saya di magic jar masih ada nasi jatah makan siang saya. Saya lihat ternyata nasinya hanya sedikit kalau saya kasih dia tentu saya tidak makan siang. Saya berpikir biarlah saya hanya siang ini tidak makan sedang orang itu dari kemarin. Saya ambil nasi serta lauknya saya persilahkan bapak itu untuk makan dan botolnya saya penuhi dengan air minum. Selesai makan dan minum terlihat wajah bapak yang tadi lusuh itu telah ceria dan bertenaga kembali. Setelah mengucapkan terimakasih bapak itu melanjutkan perjalanannya berkeliling menjajakan dagangannya.
Demikian pak Suripto mengakhiri ceritanya. Pengalaman itu menambah keyakinannya bahwa jika berbuat kabaikan pasti Allah akan membalas dengan kebaikan pula sesuai Firman Allah SWT dalam surat Ar-Rahman ayat ke-60 : “Tidak ada balasan kebaikan melainkan kebaikan pula”
Hari sudah larut malam Pak Suripto mohon pamit dan mengucapkan terimakasih atas bantuan yang saya berikan. Kejadian hari ini antara saya dan Pak Suripto betul-betul menambah keyakinan saya bahwa siapa menanam kebaikan pasti akan menuai kebaikan pula.

BELAJAR MENDENGARKAN


Anda pasti tahu bagaimana rasanya menerima telephone di tengah malam. Tapi, malam itu semuanya terasa berbeda. Aku terlonjak dari tidurku ketika telephone di samping tempet tidur berdering-dering. Aku berusaha melihat jam beker dalam gelap. Cahaya illuminasi dari jam itu menunjukan tepat tengah malam. Dengan panik aku segera mengangkat gagang telephone. “Hallo,,,!!” dadaku berdegub-degub kencang. Aku memegang gagang telephone itu erat-erat.  Kini suamiku terbangun dan menatap wajahku lekat-lekat. “Mama?” terdengar suara di seberang sana. Aku masih mendengar bisikannya di tengah-tengah dengung telephone. Pikiranku langsung tertuju pada anak gadisku. Ketika suara itu semakin jelas, aku meraih dan menarik-narik pergelangan tangan suamiku. “Mama, aku tahu ini sudah larut malam. Tapi jangan... jangan berkata apa-apa dahulu sampai aku selesai bicara. Dan sebelum mama menanyai aku macam-macam, ya aku mengaku ma. Malam ini aku mabuk. Beberapa hari ini aku lari dari rumah, dan...” Aku tercekak. Nafasku tersenggal-senggal. Aku lepaskan cengkeraman pada suamiku dan menekan kepalaku keras-keras. Kantuk masih mengaburkan pikiranku. Dan, aku berusaha agar tidak panik. Ada sesuatu yang tidak beres. “...Dan aku takut sekali. Yang ada dalam pikiranku bagaimana aku telah melukai hati mama. Aku tak mau mati disini. Aku ingin pulang. Aku tahu tindakanku lari dari rumah adalah salah. Aku tahu mama benar-benar cemas dan sedih. Sebenarnya aku bermaksud mentelephone mama beberapa hari yang lalu, tapi aku takut...takut...” ia menangis tersedan-sedan. Sengguknya benar-benar membuat hatiku iba. Terbayang aku akan wajah anak gadisku. Pikiranku mulai jernih, “Begini...” “Jangan ma, jangan bicara apa-apa. Biarkan aku selesai bicara.” Ia meminta. Ia tampak putus asa. Aku menahan diri dan berpikir apa yang harus aku katakan. Sebelum aku menemukan kata-kata yang tepat, ia melanjutkan, “Aku hamil ma. Aku tahu semestinya aku mabuk sekarang, tapi aku takut. Aku sungguh-sungguh takut!” Tangis itu memecah lagi. Aku menggigit bibirku dan merasakan pelupuk mataku mulai basah. Aku melihat pada suamiku yang bertanya perlahan, “Siapa itu?” aku menggeleng-gelengkan kepala. Dan ketika aku tidak menjawab pertanyaannya, ia meloncat meninggalkan kamar dan segera kembali sambil membawa telephone portable. Ia mengangkat telephone portable yang tersambung pararel dengan telephoneku. Terdengar bunyi klik. Lalu suara tangis suara diseberang sana terhenti dan bertanya, “Mama, apakah mama masih disana? Jangan tutup telephonenya ma. Aku benar-benar membutuhkan mama sekarang. Aku merasa kesepian.” Aku menggenggam erat gagang telephone dan menatap suamiku, meminta pertimbangannya. “Mama masih ada di sini. Mama tidak akan menutup telephone,” kataku. “Semestinya aku sudah bilang pada mama. Tapi bila kita bicara, mama hanya menyuruhku mendengarkan nasehat mama. Selama ini mamalah yang selalu berbicara. Sebenarnya aku ingin bicara pada mama, tetapi mama tak mau mendengarkan. Mama tak pernah mau mendengarkan perasaanku. Mungkin mama anggap perasaanku tidaklah penting. Atau mungkin mama pikir mama punya semua jawaban atas persoalanku. Tapi terkadang aku tak membutuhkan nasehat mama. Aku hanya ingin mama mau mendengarkan aku.” Aku menelan ludahku yang tercekat di kerongkongan. Pandanganku tertuju pada pamflet “Bagaimana Berbicara Pada Anak Anda” yang tergeletak di sisi tempat tidurku. “Mama mendengarkanmu,” aku berbisik. “Tahukah mama, sekarang aku mulai cemas memikirkan bayi yang ada di perutku bagaimana aku bisa merawatnya. Aku ingin pulang. Aku sudah panggil taxi. Aku mau pulang sekarang.” “Itu baik sayang,” kataku sambil menghembuskan nafas yang meringankan dadaku. Suamiku duduk mendekat padaku. Ia meremas jemariku dengan jemarinya. “Tapi ma, sebenarnya aku bermaksud pulang dengan menyetir sendiri mobil sendiri.” “Jangan,” cegahku. Ototku mengencang dan aku mengeratkan genggaman tangan suamiku. “Jangan, tunggu sampai taxinya datang, jangan tutup telephone ini sampai taxi itu datang.” “Aku hanya ingin pulang ke rumah, mama.” “Mama tahu, Tapi, tunggulah sampai taxi datang. Lakukan itu untuk mamamu.” Lalu aku dengar senyap disana. Ketika aku tak mendengar suaranya, aku gigit bibir dan memejamkan mata. Bagaimanapun aku harus mencegahnya agar tidak mengemudikan mobil itu sendiri. “Nah, itu taxinya datang.” Lalu aku dengar suara taxi berderum disana. Hatiku terasa lega. “Aku pulang ma,” katanya untuk terakhir kali. Lalu ia tutup telephone itu. Air mata meleleh dari mataku. Aku berjalan keluar menuju kamar anak gadisku yang berusia 16th. Suamiku menyusul dan memelukku dari belakang. Dagunya ditaruh diatas kepalaku. Aku menghapus air mata dari pipiku. “Kita harus belajar mendengarkan,” kataku pada suamiku. Ia terdiam sejenak dan bertanya, “Kau pikir, apakah gadis itu sadar kalau ia telah mentelephone nomor yang salah?” Aku melihat gadisku sedang tertidur nyenyak. Aku berkata pada suamiku, “Mungkin itu tadi bukan nomor yang salah.” “Ma? Pa? Apa yang terjadi?” terdengar gadisku menggeliat dari balik selimutnya. Aku mendekati gadisku yang kini terduduk dalam gelap, “Kami baru saja belajar,” jawabku. “Belajar apa?” tanyanya. Lalu ia kembali berbaring dan matanya terpejam lagi. “Mendengarkan,” bisikku sambil mengusap pipinya.

Selasa, 07 Mei 2013

Tak Perlu Berduka Karena Sedikitnya Harta

Rezeki merupakan nikmat Allah, sekaligus amanah yang cukup berat dari Allah. Acap kali ketika seseorang  mendapatkan rezeki mereka lupa diri, terkunci hatinya untuk bersyukur atas anugerah Allah tersebut. Allah memperingatkan bahaya bagi orang yang tidak memanfaatkan rezeki sesuai syariatNya "Dan jika Allah melapangkan rezeki hamba-hambanya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikendakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambanya lagi Maha Melihat "(QS. Asy Syura :42).

Sungguh rezeki itu merupakan tanda kasih dan kemurahan Allah. Betapa Allah memberikan kepada setiap makhlukNya curahan rezeki. Dalam hal ini Allah berfirman " Dan tidak ada satu binatang melatapun di muka bumi melainkan Allah lah yang memberikan rezekinya" (QS. Hud :6). Artinya tidak ada binatang melata di muka bumi ini yang Allah tidak menentukan rezekinya, dan tidak ada jiwa yang mati melainkan dia telah memakan makanan terakhir yang ditakdirkan atasnya. Manusia dalam memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya harus berusaha mencari rezeki dengan cara halal. Jika dia telah berusaha tetapi masih mendapat kekurangan jangan sampai ada pikiran untuk mencarinya dengan cara yang haram.Sebaik-baik cara menghadapi kekurangan ini adalah bersabar dan tetap bersyukur kepadaNya.

Dalam menyikapi kemiskinan dan kekayaan Rosulullah SAW telah memberikan penilaian yang mungkin tidak pernah terbesit dalam benak kita. Sebuah standar yang berorientasi jauh kedepan, bukan terpancang pada hal-hal yang tampak belaka. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda "Bukan kaya itu karena banyaknya harta tapi kaya itu kaya jiwa" (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan sedikit harta, hidup seseorang tak mesti sengsara. Orang yang bergelimang harta pun hidupnya belum tentu bahagia. Kenyataannya banyak orang kaya raya hidupnya merana. Lihatlah para artis yang mati sia-sia karena menghabisi jiwanya atau para pengusaha yang menferita gangguan jiwa. Mereka bukanlah orang-orang yang kekurangan harta. Tapi kerana satu hal, yaitu mereka tidak bahagia...!!

Itu berarti bahagia dan sengsara tidak mutlak tergantung pada harta, tetapi lebih pada hati. Hati yang dipenuhi rasa syukur kepada Allah terhadap apapun dan berapapun pemberian Allah. Lihatlah orang yang paling mulia, Rosulullah SAW. Istri beliau Aisyah r.a menceritakan kondisi rumahtangga beliau, ia mengatakan "Keluarga Muhammad SAW sejak awal tiba di Madinah tidak pernah sampai merasakan kenyang karena menyantap hidangan dari gandum halus selama tiga malam berturut-turut sampai beliau meninggal".

Beliau SAW memiliki tikar yang terbuat dari kulit dan tilam dari serabut. Dalam beberapa malam berturut-turut beliau dan keluarga pernah tidak mendapatkan makan malam. Rotinya pun terbuat dari gandum yang kasar. Pernah tiga kali hilal dalam dua bulan berturut-turut dari dapur beliau tidak terlihat kepulan asap. Makanan beliau SAW terbuat dari dua jenis yang berwarna hitam, kurma dan air. Potret lain yang ikut mewarnai dunia kesehajaan adalah Umar bin Khattab r.a. Ia seorang Khalifah kaum muslimin. Meski begitu pakaian beliau dipenuhi dengan duabelas tambalan. Suatu hari pernah Khalifah Umar agak terlambat menghadiri shalat jumat kerena mencuci bajunya dan tidak memiliki baju yang lain yang dapat digunakan untuk shalat jumat selain baju itu. Rumahnya sebuah gubuk. Namun ia mampu mengguncang istana Kirsa dan Persia.

Allah SWT berfirman "Dan bersabrlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)" (QS. Lukman :17). Dalam ayat lain Allah menyampaikan bahwa kekurangan harta adalah salah satu bentuk ujian yang seharusnya disikapi dengan kesabaran. Allah SWT berfirman " Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" (QS. Al Baqarah :155).

Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia akan menguji hambanya sepanjang hidup mereka dengan rasa takut, kemiskinan dan sebagainya. Dengan demikian akan tampak mana hamba Allah yang taat dan mana pula yang kufur. Tentunya hamba Allah yang teguh dalam ketaatan kepadaNya akan mendapat kabar gembira. Lantas apa wujug dari kabar gembira tersebut? Kabar gembira yang telah dijanjikan oleh Allah bagi orang-orang yang bersabar menjalani ujian kehidup ini adalah sebagaimana yang tertera dalam firman Allah " Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas" (QS. Az Zumar :10).

Hakikat Hidup

Berbicara masalah hakikat hidup sebenarnya membutuhkan rincian yang sangat panjang dan terinci. Namu secara ringkas, hakikat hidup bisa terungkap dari pernyataan Ali bin Abi Thalib. Menurutnya, awal kehisupan adalah tangisan, pertengahannya adalah ujian dan ujungnya adalah kefanaan. Ketika anda lahir anda menangis, dan tangisan itu akan menjadi warna kehidupan. Saat anda sedih dan juga bahagia terkadang ditandai dengan tangisan.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamnya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan  di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampuna dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. 57:20)

Dalam perjalanan hidup ini tidak ada orang yang tidak mendapat ujian walaupun kadarnya berbeda-beda namun ujian itu pasti ada. Semua yang ada dalam genggaman kita pada dasarnya hanya asesoris dan hiasan termasuk gelar akademis, kekayaan, harta dan keduniaan lainnya. Kalau sudah selesailah semua, giliran pintu kematian yang akan dirasakan seluruh umat manusia.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. 21:35)

dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan)  duniawi dan berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguuhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 28:77)

ada sesuatu yang kita akan dimiliki secara abadi dampai akherat dan hanya yang didunia ini. Maka jadikan dunia ini sebagai sarana dan mencari bekal untuk masuk ke alam selanjutnya. Karena alam yang akan dilalui manusia hanyalah one way, satu tiket. Alias tidak bisa balik lagi. Waspadalah, berhati-hati, bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu dan beramal ketika didunia ini.

Kisah Telur Dan Tempe Gosong

Suatu malam, ibu yang bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu, jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah, sangat sederhana, berupa telur mata sapi, tempe gorang, sambal teri dan nasi. Sayangnya karena mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong...!!

Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sudah habis. Kami menunggu dengan tegang apa reaksi ayah yang pulang kerja pasti sudah capek, melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong.

Luar biasa...!! Ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan tersenyum, dan bahkan berkata, "Bu terimakasih ya...!!" lalu ayah terus menanyakan kegiatan saya dan adik disekolah.

Selesai makan, masih dimeja makan, saya mendengar ibu meminta maaf karena telur dan tempenya yang gosong itu, dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan: "Sayang, aku suka telur dan tempe yang gosong"

Sebelum tidu, saya pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur kepada ayah, saya bertanya "apakah ayah benar-benar menyukai telur dan tempe gosong?"

Ayah memeluk saya erat dengan kedua tangannya dan berkata, " Anakku, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar-benar sudah capek, jadi sepotong telur dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapapun kok...!!!"

Ini pelajaran yang saya praktekkan di tahun-tahun berikutya, "Belajar menerima kesalahan orang lain, adalah satu kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh dan abadi."

Ingatlah emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada, jadi selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi pasti punya alasannya sendiri.

Jangan kita menjadi orang yang egois hanya mau dimengerti, tapi tidak mau mengerti.

Saya Hanya Minta Sedikit Perhatian

Sejak masa muda saya menghabiskan waktu saya untuk terus mencari usaha yang baik untuk keluarga saya, khususnya untuk anak-anak yang sangat saya cintai. Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya dimana kami bisa tinggal dirumah yang sangat besar dengan segala fasilitas yang sangat bagus.

Demikian pula dengan anak-anak saya, mereka semua berhasil sekolah sampai keluar negeri dengan biaya yang tidak pernah saya batasi. Akhirnya mereka semua berhasil dalam sekolah juga dalam usahanya dan juga dalam berkeluarga.

Tibalah dimana kami sebagai orangtua merasa sudah saatnya pensiun dan menuai hasil panen kami. Tiba-tiba istri tercinta saya yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan ini meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak.

Lalu sejak kematian istri saya tinggallah saya hanya dengan para pembantu kami karena anak-anak kami semua tidak ada yang mau menemani saya karena mereka sudah mempunyai rumah yang juga besar. Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau menemani saya setiap saat saya memerlukannya.

Tidak sebulan sekali anak-anak mau menjenghuk saya ataupun memberi kabar melalui telephone. Lalu tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan kalau dia akan menjual rumah karena selain tidak effesien juga toh saya dapat ikut tinggal dengannya.

Dengan hati yang berbunga saya menyetujuinya karena toh saya juga tidak memerlukan rumah besar lagi tanpa ada orang-orang yang saya kasihi di dalamnya. Setelah itu saya ikut dengan anak saya yang sulung.

Tapi apa yang saya dapatkan? setiap hari mereka sibuk sendiri-sendiri dan kalaupun mereka ada dirumah tak pernah sekalipun mereka mau menyapa saya. Semua keperluan saya pembantu yang memberi. Untunglah saya selalu hidup teratur dari muda maka meskipun sudah tua saya tidak pernah sakit-sakitan.

Lalu saya tinggal dirumah anak saya yang lain. Saya berharap kalau saya akan mendapat sukacita didalamnya, tapi rupanya tidak. Yang lebih menyakitkan semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti, mereka menyediakan semua peralatan dari kayu dengan alasan untuk keselamatan saya tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan alat-alat mereka yang mahal-mahal itu. Setiap hari saya makan dan minum dari alat-alat kayu atau plastik yang sama dengan yang mereka sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka. Setiap hari saya makan dan minum sambil mengucurkan air mata dan bertanya dimanakah hati nurani mereka?

Akhirnya saya tinggal dengan anak saya yang terkecil, anak yang dulu sangat saya kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah seoarang anak yang sangat memberikan kesukacitaan pada kami semua. Tapi apa yang saya dapatkan?

Setelah beberapa lama saya tinggal disana akhirnya anak saya dan istrinya mandatangi saya lalu mengatakan bahwa mereka akan mengirim saya untuk tinggal dipanti jompo dengan alasan supaya saya punya teman untuk berkumpul dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungi saya.

Sekarang sudah dua tahun daya disini tapi tidak sekalipun dari mereka yang datang untuk mengunjungi saya apalagi membawa makanan kesukaan saya. Hilanglah semua harapan saya tentang anak-anak yang saya besarkan dengan segala kasih sayang dan kucuran keringat. Saya bertanya-tanya mengapa kehidupan hari tua saya demikian menyedihkan padahal saya bukanlah orangtua yang menyusahkan, semua harta saya mereka ambil. Saya hanya minta sedikit perhatian dari mereka tapi mereka sibuk dengan diri sendiri.

Kadang saya menyesali diri mengapa saya bisa mendapatkan anak-anak yang demikian buruk. Masih untung disini saya punya teman-teman dan juga kunjungan dari dermawan-dermawan yang mengasihi saya tapi tetap saya merindukan ana-anak saya.

"Sampai kapankah hati kita membiarkan para orangtua kesepian dan menyesali hidupnya hanya karena semua kesibukan hidup kita. Bukankah suatu haripun kita akan sama dengan mereka, tua dan kesepian? Ingatlah bahwa tanpa Ayah dan Ibu, kita tidak akan pernah ada di dunia dan menjadi seperti ini. Jika kamu masih mempunyai orangtua, bersyukurlah sebab banyak anak yatim-piatu yang merindukan kasih sayang orangtua."

Menangis Memadamkan Api Neraka

Dua ilmuwan pernah melakukan penelitian disertasi tentang air mata. Kedua penelliti tersebut berasal dari Jerman dan Amerika Serikat. Hasil penelitian kedua peneliti itu menyimpulkan bahwa air mata yang keluar karena terpecik bawang atau cabe berbeda dengan air mata yang mengalir karena kecewa dan sedih.

Air mata yang keluar karena terpecik bawang atau cabe ternyata tidak mengandung zat yang berbahaya. Sedangkan, air mata yang mengalir karena rasa kecewa atau sedih disimpulkan mengandung toksin, atau racun. Kedua peneliti itu pun merekomendasikan agar orang-orang yang mengalami rasa kecewa dan sedih lebih baik menumpahkan air matanya. Sebab, jika air mata kesedihan atau kekecewaan itu tidak dikeluarkan, akan berdampak buruk bagi kesehatan.

Menangis itu indah, sehat, dan simbol kejujuran. Pada saat yang tepat, menangislah sepuas-puasnya dan nikmatilah karena tidak selamanya orang bisa menangis. Orang-orang yang suka menangis sering kali dilabeli sebagai orang cengeng. Cengeng terhadap Sang Kholik adalah positif dan cengeng terhadap makhluk adalah negatif.

Orang-orang yang gampang berderai air matanya ketika terharu mengingat dan merindukan Tuhannya, air mata itu akan melicinkannya menembus surga. Air mata yang tumpah karena menangisi dosa masa-masa lalu akan memadamkan api neraka.

Hal ini sesuai dengan hadist Nabi, "Ada mata yang diharamkan masuk neraka, yaitu mata yang tidur semalaman dalam perjuangan fisabilillah dan mata yang menangisi karena takut kepada Allah."

Seorang sufi pernah mengatakan , jika seseorang tidak pernah menangis, dikhawatirkan hatinya gersang. Salah satu kebiasaan para sufi ialah menangis. Beberapa sufi mata dan mukanya menjadi cacat karena air mata yang selalu berderai.

Tuhan memeuji orang yang menangis. "Dan, mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." (QS Al-Isra'[17]:109). Nabi Muhammad SAW juga pernah berpesan, "Jika kalian hendak selamat, jagalah lidahmu dan tangisilah dosa-dosamu."

Ciri-ciri orang yang beruntung ialah ketika mereka hadir kebumi langsung menangis, sementara orang-orang disekitarnya tertawa dengan penuh kegembiraan. Jika meninggal dunia ia tersenyum, sementara orang-orang yang di sekitarnya menangis karena sedih ditinggalkannya.

Tampaknya, kita perlu membayangkan ketika nanti meninggal dunia, apakah akan lebih banyak orang mengiringi kepergian kita dengan tangis kesedihan atau dengan tawa kegembiraan.

Jika air mata kerinduan terhadap Tuhan tidak  pernah lagi terurai, apalagi jika air mata selalu kering di atas tumpukan dosa dan maksiat, kita perlu ssegera melakukan intropeksi. Apakah mata kita sudah mulai bersahabat dengan surga atau neraka.

Http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/10/31/143618-air-mata-yang-menuntun-ke-surga